Bagaimana Organisasi Bertransformasi di Era Digital?

Seperti apakah organisasi Anda telah merespon perubahan di era digital sekarang ini? Sebagai pemimpin, langkah apakah yang telah Anda lakukan? Mark Bonchek (HBR, Juli 2017) menyampaikan bahwa ada 5 jenis modal yang harus dikelola dengan baik oleh para pemimpin digital. Mark menggunakan rumus E = MC2 tetapi dalam pengertian yang lain. E sebagai Enterprise Value, M sebagai Massa berupa aset, orang-orang, dan peralatan di dalam ekosistem bisnis Anda, dan C sebagai bilangan eksponensial dari Connectivity dan Co-Creation.

Untuk bisa meraih keberhasilan di era digital, Mark Bonchek dalam Harvard Bussiness Review pekan lalu di Juli 2017, menyampaikan bahwa setiap perusahaan atau organisasi, memulai dengan menata pemahaman tentang membuat jaringan untuk meningkatkan pemasukan. Di dalam rumus E = MC2, kita bermula dengan M dan kemudian meningkatkan nilai Konektivitas dan Ko Kreasi (C2) untuk menciptakan lebih banyak Enterprise Value. Dengan cara ini, Anda dan saya akan dapat memandang tugas kita di bagian SDM dalam mindset dan paradigma yang baru, segar, dan berguna untuk diterapkan. Karena apalah gunanya bersiap menghadapi perubahan, bila pikiran kita sendiri tidak bisa diubah sebagai awalannya bukan?

Menurut Mark Bonchek, setiap organisasi memiliki 5 tipe modal (kapital), yaitu Human Capital, Financial Capital, Intellectual Capital, Physical Capital, dan Relational Capital. Mari kita lihat apa yang akan terjadi, saat kita menciptakan hubungan interkonektivitas di antara semua hal tersebut, dan bukan sekedar hanya di-manage saja. Setelah membaca tulisan ini, Anda akan memiliki mindset baru tentang apa yang harus Anda lakukan sebagai pemegang strategi manajemen SDM di perusahaan.

 

  • Human Capital

Biasanya, kita melihat karyawan sebagai sumber daya yang harus dimanage. Hal ini terutama karena paradigma yang menyebut HC sebagai departemen sumber daya manusia. Perusahaan mendapatkan untung, saat berhasil me-manage karyawannya (sebagai input) untuk menghasilkan produk dan memberikan jasa (sebagai output).

Sekarang saatnya untuk mengubah mindset atau paradigma tersebut. Bagaimana bila kita mulai melihat organisasi sebagai sebuah platform? Sebagai sebuah wadah untuk menghubungkan banyak karyawan yang masing-masing memiliki keunikan ide, skil, dan kesemuanya saling bekerjasama dengan pihak yang membutuhkan bantuan mereka.

Perusahaan seperti General Electric, menggunakan platform pendanaan yang mengikat orang dari dalam dan dari luar perusahaan. Hal itu membuat GE sukses melakukan efisiensi dan dapat me-manage 10.000 orang pegawainya di seluruh dunia dengan bantuan teknologi. Sebelumnya, GE mengalami beban yang besar dengan memiliki 300.000 pegawai di seluruh dunia. Dengan bantuan platform IT GE bisa memantau operasional perusahaan dengan baik dan transparan. Semua data yang dibutuhkan ada di ujung jari.

 

  • Intellectual Capital

Untuk banyak perusahaan, hak kekayaan intelektual hanyalah aset yang menghasilkan diferensiasi. Hak paten, merek terdaftar, data, dan software, merupakan bagian dari aset yang menghasilkan diferensiasi. Namun, bagaimana bila kita melihatnya bukan sebagai intellectual capital, tetapi lebih kepada konektivitas dari tiap bagian aset intelektual itu?

Contohnya, dahulu data penelitian bersifat eksklusif dan langka, walaupun penelitinya menggratiskan, tetapi ia tetap tidak bisa membuat hasil penelitiannya diketahui dunia. Namun tidak demikian, setelah ada Google.

Demikian pula salesforce, yang menyediakan jasa marketing terpusat, yang membuat jasa riset pasar dan jasa manajemen marketing yang dahulu super mahal, kini hanya tinggal klik di ujung jari saja.

Inilah yang terjadi saat perusahaan kita bergerak dan memperlakukan aset intelektual dalam hubungan interkonektivitas satu sama lain. Apa yang ingin kita jual, kini tidak memerlukan banyak perancangan toko, penyewaan ruko, dan sebagainya. Bila Anda memiliki aset intelektual berupa keahlian sebagai konsultan, misalnya Anda bisa menggunakan internet untuk memarketingkan jasa dari perusahaan Anda.

 

  • Physical Capital

Biasanya kita berpikir bahwa nilai aset ada pada berapa harga properti tersebut. Namun di era digital, aset fisik perusahaan kita memiliki nilai tambah sosial dan nilai emosional. Selain itu, dapat menghasilkan nilai lebih dengan membuat konektivitas dan daya guna (C2) dari M (nilai aset) tersebut.

Contohnya, apa yang dilakukan Caterpillar dan GE, mereka menciptakan nilai konektivitas dan daya guna dari aset dengan memantau peralatan berat mereka yang ada di seluruh dunia, sehingga menghemat biaya perawatan hingga jutaan dollar. Konektivitas yang diciptakan antara peralatan berat dan menghubungkan dengan GPS tracker, bisa memberitahukan lokasi dan suhu dari alat tersebut. Hal ini menghindarkan dari kerusakan aset atau rusaknya muatan yang dibawa oleh peralatan berat milik Anda tersebut.

 

  • Financial Capital

Anda mungkin berpikir bahwa uang hanya sekedar koin atau kertas. Namun, kita mulai merasakan perubahan bentuknya. Siapa di antara Anda yang masih menerima gaji dalam bentuk fisik (di amplop)? Sangat jarang bukan? Gaji Anda kini hanya berupa perubahan nilai di rekening internet banking Anda atau hanya berupa perubahan angka di mesin ATM.

Namun yang lebih advance lagi, mungkin Anda sudah bertransaksi dengan menggunakan bitcoin? Uang yang Anda miliki bisa ditransfer ke berbagai penjuru dunia tempat Anda membeli barang yang Anda inginkan. Apakah itu kerudung sutra dari Turki, atau kamera CCTV dari Tiongkok? Uang kini menjadi bernilai lebih dan konsep uang menjadi lebih tinggi yang bisa digunakan dengan cara-cara yang cerdas dan aman.

 

  • Relational Capital

Untuk memperoleh loyalitas konsumen, kebanyakan perusahaan sibuk membuat sistem costumer relation management. Bahkan, ada industri bernilai puluhan juta dolar dibalik CRM. Namun, esensi dan mindset dari jaringan konsumen, sebenarnya lebih dari itu.

Kini, jaringan konsumen yang Anda miliki bisa bernilai lebih dengan menghubungkan konsumen melalui berbagai jenis platform. Contohnya, apa yang dilakukan Waze dan Google Maps, dengan Anda menyalakan fitur GPS di HP Anda, Waze dan Google Maps bisa memantau kecepatan gerak Anda saat kendaraan Anda berjalan, dan bersama dengan ratusan atau ribuan pengguna lainnya, statistic Google Maps dan Waze dapat memberitahukan pada Anda bahwa ada tabrakan beberapa ratus meter di depan Anda. dan memberitahukan Anda jalan alternatif sehingga Anda tidak perlu terjebak macet.

Itulah salah satu contoh di mana jaringan konsumen Anda dibuat saling terhubung, dan menciptakan nilai lebih untuk satu sama lain.

 

Bagaimana? Era digital sungguh telah mengubah cara kita berbisnis. Segala sesuatu menjadi lebih mudah dan bisa diakses dari mana saja. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Sudahkah siap menghadapi era digital? Sudahkah melakukan transformasi yang dibutuhkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *